Curahan Penulis Cupu



Curahan Penulis Cupu.

Singkat cerita aku pernah bermimpi :
"Aku ingin menjadi seorang penulis." ,
"Aku ingin menjadi seorang sastrawan." ,
"Aku ingin menjadi seorang penyair."

Harapan itu layaknya masa kanak-kanak ketika ditanya seseorang apa cita-citamu—ingin menjadi pilot lah, ingin menjadi polisi, ingin menjadi dokter. Semua seakan melesat dengan cepat layaknya peluru yang dibawa seorang seniper handal. Sekali tembak akan tepat sasaran.

Mau bagaimana pun, mimpi adalah sebuah harapan yang perlu ditata demi terwujudnya di masa depan.

Begitu pun denganku. Demi mewujudkan mimpi yang pernah aku miliki harus menempuh jalur lika-liku. Dimana awal lulus Sekolah menengah ketika ingin mengambil jurusan sastra terhalang oleh restu semesta. Aku dari SMK teknik. Sangat tidak relevan jika berpindah haluan.

Tuntutan pun hadir dari dua orang yang sangat berpengaruh dalam hidupku. Mereka mengahrapkanku untuk masuk di salah satu perguruan tinggi, dengan syarat itu harus di dalam kota yang kini aku tempatti. Tentu saja tuntutan itu hadir dari situasi dan kondisi yang ada.

Ya Ampun... Kota ini masih terlalu sepi untuk mewadahi mimpi-mimpi ini. Kota ini penuh kemajumudan seperti selama ini yang aku rasakan di dalamnya. Bisa diprediksi mimpiku akan kupendam dalam-dalam. (Itu firasat buruk yang kala itu tiba-tiba menghujanni)

Kini aku adalah mahasiswa semester akhir di salah satu kampus kota kelahiranku. Semua berbeda dengan rencana awal saat lulus SMA : kuliah di fakultas teknik dan tetap mendalami dunia kepenulisan melalui otodidak. Tetapi aku mengambil fakultas keguruan ilmu pendidikan.

Mimpi menjadi seorang penulis yang dapat menerbitkan buku perlahan aku pendam. Tapi tidak dengan kegemaranku yang kerap kali mencurahkan isi pikiran dalam layar gadgetku yang aku privasi. Lamban laun pemandangan tulisan yang tak karuan itu semakin menumpuk. Tapi aku tak tau harus melangkah kemana.

Aku memang selalu berharap lebih. Kepada lokal wisdom yang aku singgahi. Tetapi mengharap berubahan dari orang lain adalah hal yang muskil, bila kita sendiri hanya berdiam diri. Aku juga orang yang pemalu untuk ikut sana-sani.

Waktu terus berjalan dengan masaku di bangku perkuliahan. Grup kesusastraan memang sudah aku temukan di sekitarku. Tapi sekali lagi, mentalita ini sangat lemah. Aku tak berani sebab terlalu cupu dan kurangnya pengetahuan untuk masuk kedalamnya. Ditambah lagi mimpi yang dulu itu perlahan sudah aku tenggelamkan.

Semesta memang unik memainkan alurnya untuk penikmat-penikmatnya. Sekian lama sudah aku pendam mimpi itu. Harapan baru muncul dari teknologi masa kini. (Yang kebetulan aku juga jadi penikmatnya) Ada grup kepenulisan online. Yang memuat pembelajaran untuk menulis dan bisa juga menerbitkan sebuah karya solo. Tanpa adanya tatapnya muka. Hanya ada tatap maya di dalamnya.

Bergelut dengan kobaran api keberanian, aku memberani diri untuk masuk ke dalamnya. Toh mereka tidak tahu aku ini adalah orang yang sangat pemula untuk bergabung.

Proses demi proses aku jalanni selama berhari-hari. Dengan cara yang cukup mudah. Hanya stay menyimak pembahasan di grup sosial media WhatsApp. Itu adalah masa pembelajaran untuk ikut menyelami dunia impian yang pernah aku terbangkan di langit doa.

Sampai akhirnya semesta menjawab pertanyaan yang sempat membuatku resah akan takdir-takdirnya. Harapan yang sudah hampir aku lupakan akhirnya dikembalikan dengan hasil usahaku di dalam grup kepenulisan online itu.

Setetes harapan berhasil aku rasakan dengan terbitnya buku solo pertamaku. Meski hanya buku cupu yang dari penulis cupu. Tapi untuk membangunnya agar lebih besar lagi. Aku juga perlu usaha yang lebih besar lagi. Dan satu buku terkadang aku juga baharap agar tidak ada keangkuhan dalam diri yang dapat merusak bangunan mimpi untuk lebih besar lagi.

Waktuku kini sudah tak seperti dulu lagi yang sering menyendiri di warung kopi dan bermesra dengan kata-kata dengan hpku. Aku sedang menikamti masa bergelut dengan hiruk pikuknya dunia fana ini. Tapi mimpi tetaplah mimpi yang bisa diharapkan suatu hari nanti angan-angan akan menjadi kenyataan.

-----
Tuban, 7 Maret 2020
Yogi Riyansyah